Tower Transposisi merupakan salah satu tipe tower sudut yang digunakan untuk mengubah atau menukar posisi fasa penghantar (konduktor) antar lengan tower transmisi pada kedua bentang sirkitnya.
Secara konfigurasi sirkit, tower transposisi termasuk dalam tipe tower piramida. Pada konfigurasi piramida, ketiga fasa penghantar tersusun secara vertikal sehingga masing-masing fasa berada pada ketinggian berbeda terhadap tanah.
A transposition tower is a type of tension tower used to swap the phase positions of the conductors between the arms of a transmission tower on both spans of the circuit. In terms of circuit configuration, transposition towers are classified as a type of pyramid tower. In a pyramid configuration, the three conductor phases are arranged vertically, with each phase at a different height above ground.
Tower ini umumnya didesain sebagai Tower GG untuk membedakannya dari tipe tower lain, dan biasanya diaplikasikan pada saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) yang memiliki lintasan sangat panjang. Contoh tower transposisi dapat dilihat pada gambar berikut.
This tower is generally designated as a GG Tower to distinguish it from other tower types, and it is typically used on extra-high-voltage (EHV) transmission lines with very long spans. An example of a transposition tower is shown in the following picture.
Gambar 1. Tower Transposisi pada Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500kV
Figure 1. Transposition Tower on a 500 kV Extra-High Voltage (EHV) Transmission LineMengapa posisi fase konduktor perlu diubah atau ditransposisikan?
Why does the phase position of the conductor need to be changed or transposed?
Secara umum, penghantar atau konduktor telanjang yang digunakan pada tower transmisi memiliki parameter listrik berupa resistansi, induktansi, dan kapasitansi. Nilai-nilai tersebut meningkat seiring dengan bertambahnya panjang saluran transmisi. Selain itu, besarnya induktansi dan kapasitansi pada setiap fase konduktor berbeda, dipengaruhi oleh variasi jarak antar fase maupun jarak fase terhadap tanah. Pada sistem transmisi dengan panjang saluran yang signifikan, akumulasi induktansi dan kapasitansi menjadi semakin besar. Hal ini menimbulkan perbedaan impedansi antar fase konduktor, yang pada akhirnya memengaruhi distribusi tegangan dan dapat menyebabkan timbulnya ketidakseimbangan tegangan di ujung saluran transmisi. Untuk mengantisipasi timbulnya ketidakseimbangan tegangan di ujung saluran transmisi—di mana pengaruh induktansi terbesar terjadi pada konduktor yang berada di posisi tengah, sedangkan pengaruh kapasitansi terbesar terdapat pada konduktor paling bawah atau yang paling dekat dengan tanah—maka posisi fase konduktor perlu diubah atau ditransposisikan pada titik tertentu.
In general, bare conductors used on transmission towers possess electrical parameters such as resistance, inductance, and capacitance. These values increase proportionally with the length of the transmission line. Moreover, the magnitude of inductance and capacitance in each phase varies, influenced by differences in the spacing between phases and the distance of each phase from the ground. In transmission systems with considerable line lengths, the cumulative effects of inductance and capacitance become more pronounced. This leads to variations in impedance among the conductor phases, which in turn affect voltage distribution and may cause imbalances at the receiving end of the transmission line. To mitigate voltage imbalance—where the greatest inductive effect occurs on the conductor in the middle position, while the strongest capacitive effect is found on the lowest conductor or the one closest to the ground—the phase positions of the conductors must be periodically altered or transposed along the line.
